BANJIR KEMBALI DATANG

Table of Contents

BANJIR KEMBALI DATANG

BANJIR KEMBALI DATANG

Musim hujan baru saja dimulai, tapi banjir di perkotaan sudah mulai mengancam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, menimbulkan kemacetan, bahkan memakan korban. Ada yang jadi korban secara langsung, banyak juga yang jadi korban akibat kondisi buruknya jalan.

Banyak yang mengalami kecelakaan karena terperosok ke dalam lubang jalanan yang tergerus air hujan atau tergelincir akibat licinnya jalanan yang penuh lumpur yang naik ke jalan. Selain memakan banyak korban, banjir di perkotaan juga mendatangkan kerugian yang jumlahnya mencapai milyaran atau trilyunan. Jalanan yang hancur butuh perbaikan, begitu pula rumah penduduk yang rusak dengan segala isinya, kemacetan jalan menghamburkan BBM, perusahaan terhenti kegiatan usahanya, dan masih banyak lagi.

Banjir di perkotaan berbeda dengan baniir di pedesaan atau pedalaman. Banjir di pedesaan atau pedalaman memang sulit diatasi karena umumnya terjadi karena curah hujan yang jauh di atas normal dan juga akibat rusaknya kondisi alam seperti musnahnya hutan. Sedangkan banjir di perkotaan umumnya disebabkan oleh buruknya drainase. Lumrah terjadi banjir jika terjadi hujan yang luar biasa lebat seharian. Tetapi di perkotaan sering terjadi banjir padahal hujan belum berjam-jam. Hal ini sudah terjadi sejak berpuluh tahun yang lalu dan terus berulang setiap kali musim hujan datang. Seakan sudah menjadi kebiasaan dan akan tetap abadi. Haruskah orang kota selamanya kebanjiran?

Tak ada masalah yang tak bisa terselesaikan, begitu kata orang-orang. Penyebab banjir di perkotaan sudah jelas, tak perlu pakar tata kota yang cerdas untuk mengetahuinya. Anak kecil pun tahu penyebabnya. Tapi para petinggi kota terlalu sibuk mencari kambing hitam. Dan tak terasa musim hujan pun telah datang kembali. Bila para petinggi itu mau berkaca pada negara lain mereka harusnya bisa menyelesaikan masalah banjir ini.

Memang para petinggi itu sudah berusaha mencari solusi, tapi terbukti tak ada yang berhasil. Umumnya mereka memilih program membuat atau mengeruk baniir kanal. Jelas ini bukan cara yang efektif dan efisien. Apalagi kanal-kanal itu jauh dari pusat kota. Sungguh miris para pakar tata kota itu tak bisa menghitung berapa kecepatan air untuk mencapai kanal. Jelas butuh waktu lama mengingat buruknya jaringan drainase.

Baca Juga :