Perjuangan Kapitan Pattimura dan Imam Bonjol

Perjuangan Kapitan Pattimura dan Imam Bonjol

Perjuangan Kapitan Pattimura dan Imam Bonjol

Kapitan Pattimura atau Thomas Matullesy

Kapitan Patimura nama astinya adalah Thomas Matullesy. Kapitan Pattimura dilahirkan pada tahun 1783 di Hiria, Pulau Saparua, Maluku. Nama Kapitan Pattimura merupakan nama gelar mewarisi geilar dari moyangnya. Paca tanggal 15 Mei 1817, pasukan Pattimura mengadakan penyerbuan ke Benteng Duurstede. Dalam penyerangan tersebut, Benteng Duurstede dapat diduduki oleh pasukan Pattimura, bahkan residen Van den Bergh beserta keluarganya tewas.

Tentara Belanda yang tersisa dalam benteng tersebut menyerahkan diri. Dalam penyerbuan itu, Pattimura dibantu oleh Anthonie Rheebok, Christina Martha Tiahahu, Philip Latumahina, dan Kapitan Said Printah.


Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol lahir pada tahuni 1772 di Tanjung Bunga, Pasaman, Sumatra Barat. Nama asli Tuanku Imam Bonjol adalah Peto Syarit. Namun, Tuanku Imam Bonjol lebih dikenal dengan Nama Muhammad Shahab. Karena ia. bertempat tinggal di daerah Bonjol (Sumatra Barat) sehingga disebut sebagai Imam Bonjol.

Di Minangkabau, Sumatra Barat pada abad ke-19 terjadi perselisihan paham antara kaum Padri dan kaum Adat. Kaum Padri adalah kaum ulama, sedangkan kaum Adat adalah golongan yang sudah memeluk agama lslam, tetapi masih melakukan adat istiadat kuno.

Terjadinya Perang Padri pada awalnya karena adanya perselisihan paham antara kaum Adat dan kaum Padri. Kedua kaum tersebut tidak sepakat mengenai pelaksanaan ajaran lslam. Kaum Padri ingin melaksanakan ajaran Islam secara murni dan tidak terpengaruh adat, sedangkan kaum’Adat berpendapaf sebaliknya. Kedua kaum tersebut saling mempertahankan pendapatnya sehingga terjadi pertkaiąn.

Adanya perselisihan:kedua kaum tersebut dimanfaatkan oleh Belanda untuk merebut Sumatra Barat dengan politik adu domba. Beianda membantu kaum Adat untuk menghadapi kaum Padri. Dalam perkembangan setanjutnya kedua kaum tersebut menyadari bahwa persellsinan tersebut hanya akan menguntungkan Belanda, kemudian kaum Padri dan kaum Adat bersatu melawan Belanda. Pertahanan kaum Padri dipusatkan di Bonjol. Namun, karena taktik licik Belanda pada tanggal 25 Oktober 1837 imam Bonjol berhasil ditangkap dan ditahan. Imam Bonjoł diasingkan ke Cianjur, kemudian ke Ambon, dan terakhir ke Manado. Imam Bonjol wafat pada tanggal 6 November 1864 dan dimakamkan di desa Pineleng, Manado, Suiawesi Utara.


Sumber:

https://kelasips.co.id/